Adenium Bergaya Bonsai
Bunga melebat dengan bonggol merlekuk unik dan canti merupak dambaan bagi pehobi adenium. Bagi penggemar tanaman hias pada umumnya, sosok mawar gurun ini memang layak dikagumi. Adenium bukan saja menampilkan bunga berlimpah dan menawan. Tanaman sukulen ini mampu menyuguhkan karakter yang khas kepada pemiliknya.
Dunia berhobi adenium saat ini menunjukkan gejala mengarah kepada adenium bergaya bonsai. Kondisi seperti ini membuat sosok adenium taklagi dinikmati keindahan bunganya saja. Namun juga komposisi bentuk dan keseimbangan proporsi postur tajuk, batang dan bonggol tanaman.
Sepintas lalu adenium seperti itu bertampang seperti bonsai. Namun, demikian, banyak pehobi dan penggemar tanaman bonsai tidak setuju bila tanaman gurun ini dimasukkan sebagai bonsai. Pasalnya adenium adalah tanaman sekulen yang tidak berzat kayu. Sementara itu, tanaman yang bisa dibonsaikan adalah jenis tanaman yang berkayu. Sebut saja adenium bergaya bonsai. Bukan bonsai adenium.
Semakin banyak daya tarik dan keindahan yang ditawarkan tentu akan didampingi dengan banyak permasalahn pula. Aneka problem tersebut tentu saja bukan menjadi penghalang bagi kita. Namun justru membuat kita menjadi semakin tertantang mendalami hobi adenium. Buku ini akan mengulas berbagai Trik dan Tips seputar hobi adenium.
Antara Bonggol dan Bunga
Ada banyak sekali ragam varietas adenium berbunga yang bisa kita pilih sebagai tanaman kelangenan. Disamping itu ada pula jenis adenium berbonggol indah yang bisa dikoleksi. Umumnya, bonggol adenium bunga tidak bisa menggembung dan berbentuk unik. Sebaliknya jenis adenium berbonggo,besar pada umumnya tidak bisa menghasilkan bunga dalam jumlah yang banyak. Adenium berbonggol gempal dengan bunga yang melimpah bisa diperoleh dengan jalan penyambungan.
Jenis adenium bonggol yang saat ini banyak perdagangkan adalaj jenis adenium Arabicum. Adenium jenis ini sering digunakan sebagai batang bawah. Adenium arabicum termasuk jenis langka. Penampilannya sangat eksotis karena batangnya besar dengan percabangan banyak. Takheran jika banyak diburu untuk dijadikan batang bawah. Keistimewaan tanaman yang berjuluk queen of thousand flower ini adalah rajin berbunga. Bunganya berwarna putih dengan pinggiran merah muda dan corong putih. Namun tanaman ini sulit di perbanyak. Ukuran bunga mencapai sekitar 4-8 ,5 cm.
Somalense merupakan species yang lain. berasal dari somalia selatan sampai daerah di kenya dan tanzania. di somalia dan beberapa area di kenya , tanaman ini merupakan tanaman berukuran kecil sampai berukuran 15 kaki dengan bonggol batang berukuran sangat besar. tetapi didaerah lain cenderung menyemak menyerupai obesum. bunganya berukuran agak kecil
Seputar Benih dan Biji
Sukses berhobi dan budidaya adenium diawali dari mutu biji, cara penyemaian dan perawatan bibit. Pemilihan biji harus dilakukan secara teliti dan benar. Setelah di pilih, benih masih harus disemai sampai menjadi bibit adenium. Tanaman muda itu wajib dirawat secara benar.
Memilih Benih
Adenium berkembiak dan menyebarkan biji dengan bantuan angin. Itu sebabnya, biji adenium didisain oleh Sang Pencipta berbentuk aerodinamis. Akibatnya benda menyerupai jarum itu ringan dan ber berkulit tipis. Hal seperti itu menyebabkan fungsi perlindungan embrio dalam benih menjadi minim. Sehingga benih adenium menjadi bersifat rentan terhadap pengaruh lingkungan luar. Kulaitasnya pun cepat mengalami penurunan.
Cara memilih benih adenium berbeda dengan benih jenis tanaman lain. Cara pemilihan beih adenium tidak bisa dilakukan dengan jalan memasukkan ke dalam air. Benih adenium sangat ringan. Sehingga benih berkualitas akan tetap mengambang dan tidak pernah tenggelam ke dasar.
Pemilihan benih yang umum dilakukan didasarkan kepada umur benih. Benih dikatakan berkualitas bila umurnya tidak lebih dari 2 bulan. Benih seperti itu ditandai dengan kulitnya yang nampak elastis dan pejal. Sementara itu, benih yang sudah lama tersimpan nampak berkerut, rapuh, serta berwarna coklat kotor.
Cara lain untuk menandai benih berkualitas dapat dilakukan dengan jalan menekan benih dengan ujung jari telunjuk dan ibu jari. Benih berkualitas terdapat isi benjolan di dalamnya. Benjulan tersebut adalah embrio dan cadangan makanan.Bila kulit mudah pecah, berarti benih sudah lama. Buang saja benih seperti itu.
Menyemai Benih
Langkah penyemaian bisa diawali dengan menyiapkan tray atau pot. Anda bisa memanfaatkan nampan sebagai tray. Sebagai saluran drainasi alias pembuangan air, dibagian bawah nampan itu dibuat lubang dengan jarak antar 1 cm. Nampan tersebut sebaiknya dipilih yang berukuran 60x40cm tinggi 7 cm
Persiapan berikutnya yaitu media penyemaian. Anda bisa meramu media persemaian dengan bahan dasar yang terbuat dari campuran arang sekam, pasir malang, coco peat(sabut kelapa), dan sedikit tanah. Komposisinya masing-masing 3:2:1:0.25. Sebelum media tanam dimasukkan, akar pakis dimasukkan lebih dulu setebal 1 cm. Fungsinya untuk mencegah penymbatan lubang drainasi. Setelah itu, media tanam dibasahi dengan bantuan sprayer. Lalu dimasukkan ke dalam nampan setebal 5 cm.
Biji lalu bisa ditaburkan. Dengan jalan menatanya. Jarak antar biji berkisar antara 2,5 – 3 cm. Etelah tertata, biji lalu bisa ditutup dengan campuran arang sekam dan pasir. Perbandingannya 2 : 1. Disarankan tidak memakai adonan coco peat dengan tanah untuk menutup biji. Sebab dikhawatirkan media tersebut terlalu banyak menyimpan air. Sehingga bisa menyebabkan benih menjadi busuk. Setelah benih ditutup dengan media tanam setebal 1 cm, Anda bisa segera menyiramnya dengan bantuan sprayer. Tray persemaian lalu ditutup dengan plastik selama 2 hari. Setelah itu dibuka. Sekitar 12 – 14 hari kemudian, benih akan tumbuh.
Biji akan mulai bertunas pada umur 12-14 hari. Setelah tanaman tumbuh setinggi 4-5 cm (umur 2-3 bulan) , bibit dapat dipindahkan ke pot yang lebih besar. Jangan memindahkan bibit yang masih kecil karena dikhawatirkan belum kuat beradaptasi dengan media baru.
Setelah bjiji menjadi kecambah, problem seringkali muncul. Antara lain:
* Kecambah tumbang
Dimulai dari beberapa kecambah dulu kemudian, –seperti menulari yang lain,– beberapa lainnya lagi ikut tumbang. Penyebabnya, drainase penyemaian yang kurang baik yang mengakibatkan akar menjadi busuk.
* Bonggol membusuk
Umumnya disebabkan oleh Pithium atau Phytopthera terutama ketika kecambah dipindahkan. Benih dengan akar dan bonggol busuk dengan mudah bisa dilihat dari daun-daunnya yang menguning.
* Ulat
Hal ini menyebabkan benih jadi mati.
Cara semai:
1. Anda bisa mengunakan nampan kecil.
2. Lubangi bagian bawah jarak 1 1cm.
3. Persiapkan media terdiri dari sekam bakar halus atau gunakan pasir steril saja. Penambahan pupuk akan memyebabkan media panas dan biji tidak tumbuh.
4. Masukkan media ke nampan.
5. Tanam biji posisi tidur.
6. Tutupi biji dg sekam bakar.
7. Spray teratur ke media.
8. Tutup dengan plastik or tempatkan di tempat teduh.
9. Biji berkecambah umur 7 hari.
10. Bila kering spray secara halus jgn terlalu basah.
11. Pupuk kandang, untuk penyemaian sebnarnya belum memerlukan pupuk ini, apalagi kalo pupuk itu masih mentah, al hasil bukannya biji tumbuh, malah mati karena panas.
TRIPLE "A" PLUS
Sabtu, 15 Mei 2010
Kenali Istilah & Merk Dagang Pestisida
Aneka pestisida dengan berbagai merk dagang kerap membuat pehobi tanaman hias merasa kebingungan. Terkadang rasa bingung semakin diperparah dengan penawaran produk baru yang dilakukan oleh pelayan toko. Artikel berikut ini semoga bisa menjadi obat rasa bingung yang sering menjangkit ketika Anda hendak memilih pestisida.
Pestisida yang dijajakan di gerai umumnya memiliki kandungan aktif yang sama. Barang dagangan tersebut diperjualbelikan dengan merk dagang bermacam-macam. Akibatnya, banyak pestisida yang sebenarnay memiliki fungsi yang sama dijual dengan merek berbeda. Kondisi inilah yang sering membuat konsumen kebingungan.
Menurut jenis mahluk sasarannya, pestisida dibedakan menjadi beberapa golongan. Pestisida pembunuh tungau disebut akarisida. Contohnya yakni Kelthene MF dan Trition 4 E. Bakterisida berfungsi untuk membunuh bakteri. Misalnya Agrept, Agrimycin, Bacticin, Tetracyclin, Penisilin, Streptomycin. Sementara itu, fungisida adalah zat pembunuh jamur. Contohnya adalah Benlate, Dithane M-45, Antracol 70 WP, Cupravit OB 21, Delsene MX 200, Dimatan 50 WP.
Zat lain yang termasuk pestisida yaitu Herbisida. Zat ini bermanfaat untuk mengendalikan populasi tumbuhan penganggu alias gulma. Contohnya adalah Gramoxone, Basta 200 AS, Basafon 85 SP, esteron 45 P, dan Paraquat.
Insektisida adalah pestisida yang berfungsi untuk membunuh serangga. Contohnya adalah Thiodan, Carbofuran, dan Tamaron. Sedangkan Rodentisida adalah pestisida pembunuh tikus, Misalnya Racumin, Ratikus RB, Ratilan, dan Ratak.
Anda juga disarankan agar mengenal berbagai istilah dalam dunia pestisida. Berbagai formulasi dan cara pemakaian sering tertera dalam bentuk singkatan. Misalnya EC ( emulsifiable concentrate). Pestisida seperti ini diaplikasikan sebagai bentuk semprot. EC terdiri atas pestisida dalam pelarut organik ditambah dengan agensia emulsi. EC umumnya mengandung sat beracun sebesar 50%.
Singkatan lain yaitu WP (wettable powder). Berbentuk serbuk atau talk. WP mengandung zat beracun berkisar antara 50 – 85%. WP umumnya memiliki nama dagang MIPC.
Insektisida yang tidak dapat larut dalam air atau minyak sering disebut sebagai flowable atau F. Tipe ini berbentuk pasta. Salahsatu contohnya adalah Furadan F.
Pestisida berbentuk tepung yang dapat terlarut dalam air disebut sebagai water soluble powders atau disingkat SP. Sementarai itu, pestisida berbentuk konsentrat disebut sebagai ultra low volume atau disingkat ULV. Mengandung zat beracun dalam konsentrasi tinggi. Diaplikasikan langsung tanpa diencerkan dengan air. Pestisida juga sering dijajakan dalam bentuk granule atau G. Umumnya mengandung zat beracun berkisar antara 3 – 10%.
Tiap merk dagang, umumnya memiliki aturan pakai yang berlainan. Jadi disarankan agar Anda membaca aturan pakai terlebih dulu sebelum mengaplikasikan pestisida yang sudah Anda beli.
Semoga Anda kian bijak memilih dan menggunakan pestisida
Pestisida yang dijajakan di gerai umumnya memiliki kandungan aktif yang sama. Barang dagangan tersebut diperjualbelikan dengan merk dagang bermacam-macam. Akibatnya, banyak pestisida yang sebenarnay memiliki fungsi yang sama dijual dengan merek berbeda. Kondisi inilah yang sering membuat konsumen kebingungan.
Menurut jenis mahluk sasarannya, pestisida dibedakan menjadi beberapa golongan. Pestisida pembunuh tungau disebut akarisida. Contohnya yakni Kelthene MF dan Trition 4 E. Bakterisida berfungsi untuk membunuh bakteri. Misalnya Agrept, Agrimycin, Bacticin, Tetracyclin, Penisilin, Streptomycin. Sementara itu, fungisida adalah zat pembunuh jamur. Contohnya adalah Benlate, Dithane M-45, Antracol 70 WP, Cupravit OB 21, Delsene MX 200, Dimatan 50 WP.
Zat lain yang termasuk pestisida yaitu Herbisida. Zat ini bermanfaat untuk mengendalikan populasi tumbuhan penganggu alias gulma. Contohnya adalah Gramoxone, Basta 200 AS, Basafon 85 SP, esteron 45 P, dan Paraquat.
Insektisida adalah pestisida yang berfungsi untuk membunuh serangga. Contohnya adalah Thiodan, Carbofuran, dan Tamaron. Sedangkan Rodentisida adalah pestisida pembunuh tikus, Misalnya Racumin, Ratikus RB, Ratilan, dan Ratak.
Anda juga disarankan agar mengenal berbagai istilah dalam dunia pestisida. Berbagai formulasi dan cara pemakaian sering tertera dalam bentuk singkatan. Misalnya EC ( emulsifiable concentrate). Pestisida seperti ini diaplikasikan sebagai bentuk semprot. EC terdiri atas pestisida dalam pelarut organik ditambah dengan agensia emulsi. EC umumnya mengandung sat beracun sebesar 50%.
Singkatan lain yaitu WP (wettable powder). Berbentuk serbuk atau talk. WP mengandung zat beracun berkisar antara 50 – 85%. WP umumnya memiliki nama dagang MIPC.
Insektisida yang tidak dapat larut dalam air atau minyak sering disebut sebagai flowable atau F. Tipe ini berbentuk pasta. Salahsatu contohnya adalah Furadan F.
Pestisida berbentuk tepung yang dapat terlarut dalam air disebut sebagai water soluble powders atau disingkat SP. Sementarai itu, pestisida berbentuk konsentrat disebut sebagai ultra low volume atau disingkat ULV. Mengandung zat beracun dalam konsentrasi tinggi. Diaplikasikan langsung tanpa diencerkan dengan air. Pestisida juga sering dijajakan dalam bentuk granule atau G. Umumnya mengandung zat beracun berkisar antara 3 – 10%.
Tiap merk dagang, umumnya memiliki aturan pakai yang berlainan. Jadi disarankan agar Anda membaca aturan pakai terlebih dulu sebelum mengaplikasikan pestisida yang sudah Anda beli.
Semoga Anda kian bijak memilih dan menggunakan pestisida
Lebih Aman Tanpa Racun
Serangga tidak perlu dibunuh. Dihalau saja sudah cukup. Beragam ramuan alami bisa di gunakan untuk menghalau serangga.
Sikap serakah manusia sering membuat nasib mahluk lain menjadi kian terjepit. Contohnya serangga. Binatang berkaki enam ini dijuluki hama lantaran sering dianggap merugikan manusia. Maka tidak heran bila keberadaan serangga selalu dianggap sebagai ancaman.
Terciptalah pestisida. Senjata kimia pembasmi hama. Namun, senjata pembantai serangga ini ternyata justru melahirkan dampak merugikan bagi penciptanya. Pestisida sintetis bisa menganggu kesehatan dan kelestarian lingkungan hidup.
Berikut ini akan diuraikan beberapa cara arif mengendalikan populasi serangga di kebun. Cara pertama bisa dilakukan dengan menolak serangga dengan aroma. Berbagai tanaman beraroma khas bisa di gunakan sebagai tanaman penolak serangga. Tanaman seperti ini bisa ditanam secara tumpangsari dengan tanaman pokok yang dibudidayakan. Contoh tanaman itu yakni tomat, bawang daun dan bwang merah.
Aroma yang dihasilkan oleh tanaman juga bisa digunakan untuk menarik perhatian alias menipu binatang pemangsa daun itu. Sehingga serangga bergerombol di atas pohon penjebak. Tanaman pokok pun terhindar dari incara serangga. Contohnya yaitu tanaman tagetes, selasih dan kemangi.
Tanaman berdaun lunak dan memiliki daya tahan lebih lemah juga bisa dipakai sebagai tanaman penjebak. Dengan cara ini diharapkan serangga lebih senang memilih tanaman penjebak, lantas memangsa tanaman tersebut sampai kenyang. Tanaman pokokpun menjadi terlupakan dan selamat. Contoh tanaman penjebak yaitu tanaman jagung varietas lokal.
Adakalanya Anda harus menyemprotkan zat-zat penghalau serangga. Abnda bisa meramunya sendiri. Contongnya dengan campuran air dan bawang, campuran daun tembakau, campuran air daun tomat, campuran daun mimba dan campuran daun sirsak.
Cara lain agar tanaman Anda terhindar dari incaran hama yaitu dengan jalan menanam tepat pada musim tanam yang benar. Dengan cara seperti ini kondisi fisik tanaman menjadi vit. Sehingga bisa tetap berproduksi secara optimal, meski beberapa beberapa helai daun harus sedikit dikorbankan untuk menu haria serangga.
Tentu tak akan menimbulkan kerugian besar bila Anda rela berbagi sedikit rejeki dengan serangga. Semakin Banyak Anda menanam, semakin banyak pula Anda menuai. Artinya, semakin bnyak memberi, semakin banyak pula Anda menerima.
Sikap serakah manusia sering membuat nasib mahluk lain menjadi kian terjepit. Contohnya serangga. Binatang berkaki enam ini dijuluki hama lantaran sering dianggap merugikan manusia. Maka tidak heran bila keberadaan serangga selalu dianggap sebagai ancaman.
Terciptalah pestisida. Senjata kimia pembasmi hama. Namun, senjata pembantai serangga ini ternyata justru melahirkan dampak merugikan bagi penciptanya. Pestisida sintetis bisa menganggu kesehatan dan kelestarian lingkungan hidup.
Berikut ini akan diuraikan beberapa cara arif mengendalikan populasi serangga di kebun. Cara pertama bisa dilakukan dengan menolak serangga dengan aroma. Berbagai tanaman beraroma khas bisa di gunakan sebagai tanaman penolak serangga. Tanaman seperti ini bisa ditanam secara tumpangsari dengan tanaman pokok yang dibudidayakan. Contoh tanaman itu yakni tomat, bawang daun dan bwang merah.
Aroma yang dihasilkan oleh tanaman juga bisa digunakan untuk menarik perhatian alias menipu binatang pemangsa daun itu. Sehingga serangga bergerombol di atas pohon penjebak. Tanaman pokok pun terhindar dari incara serangga. Contohnya yaitu tanaman tagetes, selasih dan kemangi.
Tanaman berdaun lunak dan memiliki daya tahan lebih lemah juga bisa dipakai sebagai tanaman penjebak. Dengan cara ini diharapkan serangga lebih senang memilih tanaman penjebak, lantas memangsa tanaman tersebut sampai kenyang. Tanaman pokokpun menjadi terlupakan dan selamat. Contoh tanaman penjebak yaitu tanaman jagung varietas lokal.
Adakalanya Anda harus menyemprotkan zat-zat penghalau serangga. Abnda bisa meramunya sendiri. Contongnya dengan campuran air dan bawang, campuran daun tembakau, campuran air daun tomat, campuran daun mimba dan campuran daun sirsak.
Cara lain agar tanaman Anda terhindar dari incaran hama yaitu dengan jalan menanam tepat pada musim tanam yang benar. Dengan cara seperti ini kondisi fisik tanaman menjadi vit. Sehingga bisa tetap berproduksi secara optimal, meski beberapa beberapa helai daun harus sedikit dikorbankan untuk menu haria serangga.
Tentu tak akan menimbulkan kerugian besar bila Anda rela berbagi sedikit rejeki dengan serangga. Semakin Banyak Anda menanam, semakin banyak pula Anda menuai. Artinya, semakin bnyak memberi, semakin banyak pula Anda menerima.
Rabu, 12 Mei 2010
Pemancing cilik
Pada tepian sebuah sungai, tampak seorang anak kecil sedang bersenang-senang. Ia bermain air yang bening di sana. Sesekali tangannya dicelupkan ke dalam sungai yang sejuk. Si anak terlihat sangat menikmati permainannya.
Selain asyik bermain, si anak juga sering memerhatikan seorang paman tua yang hampir setiap hari datang ke sungai untuk memancing. Setiap kali bermain di sungai, setiap kali pula ia selalu melihat sang paman asyik mengulurkan pancingnya. Kadang, tangkapannya hanya sedikit. Tetapi, tidak jarang juga ikan yang didapat banyak jumlahnya.
Suatu sore, saat sang paman bersiap-siap hendak pulang dengan ikan hasil tangkapan yang hampir memenuhi keranjangnya, si anak mencoba mendekat. Ia menyapa sang paman sambil tersenyum senang. Melihat si anak mendekatinya, sang paman menyapa duluan. "Hai Nak, kamu mau ikan? Pilih saja sesukamu dan ambillah beberapa ekor. Bawa pulang dan minta ibumu untuk memasaknya sebagai lauk makan malam nanti," kata si paman ramah.
"Tidak, terima kasih Paman," jawab si anak.
"Lo, paman perhatikan, kamu hampir setiap hari bermain di sini sambil melihat paman memancing. Sekarang ada ikan yang paman tawarkan kepadamu, kenapa engkau tolak?"
"Saya senang memerhatikan Paman memancing, karena saya ingin bisa memancing seperti Paman. Apakah Paman mau mengajari saya bagaimana caranya memancing?" tanya si anak penuh harap.
"Wah wah wah. Ternyata kamu anak yang pintar. Dengan belajar memancing engkau bisa mendapatkan ikan sebanyak yang kamu mau di sungai ini. Baiklah. Karena kamu tidak mau ikannya, paman beri kamu alat pancing ini. Besok kita mulai pelajaran memancingnya, ya?"
Keesokan harinya, si bocah dengan bersemangat kembali ke tepi sungai untuk belajar memancing bersama sang paman. Mereka memasang umpan, melempar tali kail ke sungai, menunggu dengan sabar, dan hup... kail pun tenggelam ke sungai dengan umpan yang menarik ikan-ikan untuk memakannya. Sesaat, umpan terlihat bergoyang-goyang didekati kerumunan ikan. Saat itulah, ketika ada ikan yang memakan umpan, sang paman dan anak tadi segera bergegas menarik tongkat kail dengan ikan hasil tangkapan berada diujungnya.
Begitu seterusnya. Setiap kali berhasil menarik ikan, mereka kemudian melemparkan kembali kail yang telah diberi umpan. Memasangnya kembali, melemparkan ke sungai, menunggu dimakan ikan, melepaskan mata kail dari mulut ikan, hingga sore hari tiba.
Ketika menjelang pulang, si anak yang menikmati hari memancingnya bersama sang paman bertanya, "Paman, belajar memancing ikan hanya begini saja atau masih ada jurus yang lain?"
Mendengar pertanyaan tersebut, sang paman tersenyum bijak. "Benar anakku, kegiatan memancing ya hanya begini saja. Yang perlu kamu latih adalah kesabaran dan ketekunan menjalaninya. Kemudian fokus pada tujuan dan konsentrasilah pada apa yang sedang kamu kerjakan. Belajar memancing sama dengan belajar di kehidupan ini, setiap hari mengulang hal yang sama. Tetapi tentunya yang diulang harus hal-hal yang baik. Sabar, tekun, fokus pada tujuan dan konsentrasi pada apa yang sedang kamu kerjakan, maka apa yang menjadi tujuanmu bisa tercapai."
Selain asyik bermain, si anak juga sering memerhatikan seorang paman tua yang hampir setiap hari datang ke sungai untuk memancing. Setiap kali bermain di sungai, setiap kali pula ia selalu melihat sang paman asyik mengulurkan pancingnya. Kadang, tangkapannya hanya sedikit. Tetapi, tidak jarang juga ikan yang didapat banyak jumlahnya.
Suatu sore, saat sang paman bersiap-siap hendak pulang dengan ikan hasil tangkapan yang hampir memenuhi keranjangnya, si anak mencoba mendekat. Ia menyapa sang paman sambil tersenyum senang. Melihat si anak mendekatinya, sang paman menyapa duluan. "Hai Nak, kamu mau ikan? Pilih saja sesukamu dan ambillah beberapa ekor. Bawa pulang dan minta ibumu untuk memasaknya sebagai lauk makan malam nanti," kata si paman ramah.
"Tidak, terima kasih Paman," jawab si anak.
"Lo, paman perhatikan, kamu hampir setiap hari bermain di sini sambil melihat paman memancing. Sekarang ada ikan yang paman tawarkan kepadamu, kenapa engkau tolak?"
"Saya senang memerhatikan Paman memancing, karena saya ingin bisa memancing seperti Paman. Apakah Paman mau mengajari saya bagaimana caranya memancing?" tanya si anak penuh harap.
"Wah wah wah. Ternyata kamu anak yang pintar. Dengan belajar memancing engkau bisa mendapatkan ikan sebanyak yang kamu mau di sungai ini. Baiklah. Karena kamu tidak mau ikannya, paman beri kamu alat pancing ini. Besok kita mulai pelajaran memancingnya, ya?"
Keesokan harinya, si bocah dengan bersemangat kembali ke tepi sungai untuk belajar memancing bersama sang paman. Mereka memasang umpan, melempar tali kail ke sungai, menunggu dengan sabar, dan hup... kail pun tenggelam ke sungai dengan umpan yang menarik ikan-ikan untuk memakannya. Sesaat, umpan terlihat bergoyang-goyang didekati kerumunan ikan. Saat itulah, ketika ada ikan yang memakan umpan, sang paman dan anak tadi segera bergegas menarik tongkat kail dengan ikan hasil tangkapan berada diujungnya.
Begitu seterusnya. Setiap kali berhasil menarik ikan, mereka kemudian melemparkan kembali kail yang telah diberi umpan. Memasangnya kembali, melemparkan ke sungai, menunggu dimakan ikan, melepaskan mata kail dari mulut ikan, hingga sore hari tiba.
Ketika menjelang pulang, si anak yang menikmati hari memancingnya bersama sang paman bertanya, "Paman, belajar memancing ikan hanya begini saja atau masih ada jurus yang lain?"
Mendengar pertanyaan tersebut, sang paman tersenyum bijak. "Benar anakku, kegiatan memancing ya hanya begini saja. Yang perlu kamu latih adalah kesabaran dan ketekunan menjalaninya. Kemudian fokus pada tujuan dan konsentrasilah pada apa yang sedang kamu kerjakan. Belajar memancing sama dengan belajar di kehidupan ini, setiap hari mengulang hal yang sama. Tetapi tentunya yang diulang harus hal-hal yang baik. Sabar, tekun, fokus pada tujuan dan konsentrasi pada apa yang sedang kamu kerjakan, maka apa yang menjadi tujuanmu bisa tercapai."
Misteri Kotak Hitam Bu Beri
Poka dan Beka adalah dua ekor bebek yang masih muda. Umur keduanya sepantaran dengan manusia yang sedang dalam masa ABG. Si Poka sendiri umurnya sedikit lebih tua dibanding Beka, selisih 3 bulan.
Meskipun masih muda, kedua bebek tua (kalau manusia kan orang tua, berarti kalau bebek ya bebek tua, hehehe) mereka sudah meminta Poka dan Beka untuk hidup sendiri. Bukan apa-apa. Dibanding kelima saudara mereka yang lain, Poka dan Beka ternyata memiliki sifat yang kurang baik, yaitu suka curiga dan sinis terhadap binatang yang lain. Agar keduanya bisa sadar dan berubah, bebek tua mereka menyuruh Poka dan Beka untuk mendirikan rumah sendiri dan hidup mandiri.
Pinggir sungai adalah tempat yang dipilih oleh Poka dan Beka. Selain nyaman, juga dekat dengan sumber makanan dan air. Kebetulan, tempat yang mereka berseberangan dengan rumah kayu milik Bu Beri Berang-berang.
Suatu hari, dari balik jendela, Beka melihat Soni Semut membawa sebuah kotak ke rumah Bu Beri.
Kotaknya besar. Cukup untuk memasukkan Horas ke dalamnya. Sedang bagian luarnya terbungkus oleh kain berwarna hitam.
‘Hei Poka, coba lihat itu”, panggil Beka.
Poka yang sedang menggunting kukunya berhenti dan melangkah menuju jendela.
“Apaan sih?”
“Itu”, tunjuk Beka dari balik korden, “kotak hitam itu. Kira-kira apa ya isinya?”
“Wah, gede banget”, ujar Poka, terkejut. “Jangan-jangan isinya sampah tuh!”
“Kok sampah?”. Beka kebingungan.
“Coba ingat, si Soni itu kan tinggalnya dekat pembuangan sampah hutan ini.”, Poka menjelaskan teorinya dengan serius. Tangannya ia letakkan ke belakang, persis seperti seorang profesor yang sedang berpikir. Lanjutnya, “Pasti itu isinya sampah-sampah yang sudah busuk, trus ia kumpulkan dan masukkan ke dalam kotak agar tidak bau.”
Di seberang tampak Soni sedang meletakkan kotak tersebut di ruang tamu Bu Beri.
“Hmmm, bisa jadi”, Beka mengangguk-anggukkan paruhnya. “Dan jangan-jangan, Bu Beri itu punya hobi ngumpulin sampah. Dia kan tinggal sendirian sekarang, siapa tahu karena nganggur jadinya punya hobi aneh.”
“Ih, jorok juga ya”, Poka menjawab dengan raut muka jijik.
Dari luar terdengar suara pintu rumah Bu Beri ditutup. Tampaknya Soni Semut sudah pulang, meninggalkan kotak hitam tersebut di rumah Bu Beri.
***
Tiga hari sudah berlalu sejak kotak hitam itu datang. Setiap hari, Poka dan Beka mengamatinya secara diam-diam dari seberang sungai. Meskipun tidak begitu jelas karena terhalang korden rumah bu Beri, tampak bahwa bu Beri sibuk sekali dengan isi kotak hitam tersebut.
Sesekali Soni mampir dan mereka berdua terlihat antusias sekali mendiskusikan sesuatu.
Selama tiga hari itu pula, Poka dan Beka tak henti-hentinya menduga-duga dan berasumsi mengenai “sampah” yang ada di dalam kotak hitam tersebut. Prediksi mereka yang terbaru, Bu Beri dan Soni sedang berkonspirasi untuk mengumpulkan sampah-sampah terbusuk dari seluruh penjuru hutan, dan sedikit demi sedikit mengubah hutan mereka menjadi hutan sampah!
***
Keesokan harinya, dengan diantar oleh Kaka Kancil, Bu Beri menyeberangi sungai dan menuju ke rumah Poka dan Beka. Poka, yang sedang asik berjemur di atap rumah, kaget melihat kedatangan mereka berdua. Buru-buru ia menyusup masuk ke dalam rumah, menutup dan mengunci pintu dan jendela, serta menyuruh Beka untuk bersembunyi.
“Aku tidak menyangka kalau Kaka sekarang ikut bersekongkol dengan Bu Beri. Mereka ke sini pasti ingin mengajak kita untuk bergabung dengan organisasi menjijikkan mereka itu. Ih, amit-amit deh.”, bisik Poka pada Beka dari balik kulkas, tempat keduanya bersembunyi.
Beka mengangguk, tanda setuju.
Tok. Tok. Tok.
Poka dan Beka menahan nafas mendengar suara pintu diketok.
Tok. Tok. Tok.
Tok. Tok. Tok.
Tok. Tok. Tok.
Kaki Beka mulai kesemutan.
Tok. Tok. Tok.
“Hmmm, sepertinya mereka sedang tidak ada di rumah”, samar-samar terdengar perkataan Kaka kepada bu Beri.
“Iya, kalau begitu sebaiknya kita kembali saja.”, jawab bu Beri.
Sejurus kemudian terdengar suara langkah-langkah kaki menjauh.
“Phew”, ujar Beka sambil melemaskan kaki-kakinya. “Akhirnya mereka pergi juga. Hampir saja kita terjerumus ke dalam kelompok sampah itu.”
Poka mengintip dari balik jendela, menatap perahu yang dinaiki Kaka dan Bu Beri menjauh.
“Iya, untung saja tadi mereka tidak melihatku di atap.”, ujarnya, lega. “Tidur siang saja yuk, malas aku memikirkan sampah-sampah itu”.
“Yukkkk”.
***
Beberapa jam kemudian Beka terbangun. Terdengar suara ramai dari seberang sungai. Ia meloncat dari tempat tidur dan menuju ke jendela.
Tampak rumah Bu Beri terang benderang. Ramai. Binatang-binatang hutan sedang berkumpul di sana. Mereka asik mengobrol, tertawa, dan menyanyi. Di sisi kanan, bu Tutul Macan dan kak Boni Ulat sibuk menyiapkan makanan yang harumnya terasa sampai ke hidung Beka. Di sisi kiri, Kuri Kura bernyanyi dengan lantang sambil diiringi petikan gitar Kaka Kancil.
Beka sejenak bengong.
18 detik kemudian ia tersadar, dan bergegas membangunkan Poka.
“Poka, Poka, cepat bangun”.
“Apa sih”, jawab Poka sambil cemberut.
“Itu lihat, di rumah Bu Beri”
Mendengar kata kunci ‘Bu Beri’, Poka langsung loncat dari tempat tidurnya dan berlari ke arah jendela.
“Hah, ada apa itu???”, giliran Poka yang bengong.
Di seberang, Bu Beri keluar dari dalam rumahnya sambil membawa kotak besar hitam.
“Ayo semuanya kumpul sini”, teriaknya lantang sambil tersenyum.
Setelah semua binatang berkumpul mengelilingi bu Beri dan kotak hitamnya, Soni Semut tiba-tiba muncul dari balik kotak dan berkata, “Teman-teman, berhubung sekarang adalah hari ulang tahunku dan Bu Beri, yang kebetulan tanggalnya sama, maka kita berdua memutuskan untuk memberikan kado kepada seluruh penghuni hutan!!!”
Seluruh binatang bersorak dan bertepuk tangan. Saking semangatnya bertepuk tangan, Kuri Kura bahkan sampai terjengkang ke belakang.
“Dan terimalah kado dari kami berdua”, ujar Bu Beri Berang dan Soni Semut sembari menggulingkan kotak hitam tersebut.
Poka dan Beka tercekat. Tidak sadar, keduanya berpengangan tangan dan bergumam, “Pasti sampah… pasti sampah.. pasti sampah…”
Kotak terguling. Tutupnya terlepas dan menggelinding, diiringi dengan tumpahnya puluhan bahkan ratusan mainan yang sudah dibungkus kado manis dari dalam kotak.
“Horeeeee!!!!”, sorak penghuni hutan.
Sekali lagi, Poka dan Beka bengong.
***
Malam itu Poka dan Beka terdiam. Sejak melihat mainan-mainan yang ada di dalam kotak hitam bu Beri, mereka tidak bercakap-cakap apapun. Masing-masing sibuk dengan penyesalannya.
Tok. Tok. Tok.
Tiba-tiba terdengar suara ketokan di pintu.
Beka dan Poka berpandangan. Bingung.
“Anak-anak, kalian ada di rumah?”, terdengar suara Bu Beri dari balik pintu.
Kedua bebek kecil itu tersenyum dan langsung berlomba membukakan pintu bagi Bu Beri.
Meskipun masih muda, kedua bebek tua (kalau manusia kan orang tua, berarti kalau bebek ya bebek tua, hehehe) mereka sudah meminta Poka dan Beka untuk hidup sendiri. Bukan apa-apa. Dibanding kelima saudara mereka yang lain, Poka dan Beka ternyata memiliki sifat yang kurang baik, yaitu suka curiga dan sinis terhadap binatang yang lain. Agar keduanya bisa sadar dan berubah, bebek tua mereka menyuruh Poka dan Beka untuk mendirikan rumah sendiri dan hidup mandiri.
Pinggir sungai adalah tempat yang dipilih oleh Poka dan Beka. Selain nyaman, juga dekat dengan sumber makanan dan air. Kebetulan, tempat yang mereka berseberangan dengan rumah kayu milik Bu Beri Berang-berang.
Suatu hari, dari balik jendela, Beka melihat Soni Semut membawa sebuah kotak ke rumah Bu Beri.
Kotaknya besar. Cukup untuk memasukkan Horas ke dalamnya. Sedang bagian luarnya terbungkus oleh kain berwarna hitam.
‘Hei Poka, coba lihat itu”, panggil Beka.
Poka yang sedang menggunting kukunya berhenti dan melangkah menuju jendela.
“Apaan sih?”
“Itu”, tunjuk Beka dari balik korden, “kotak hitam itu. Kira-kira apa ya isinya?”
“Wah, gede banget”, ujar Poka, terkejut. “Jangan-jangan isinya sampah tuh!”
“Kok sampah?”. Beka kebingungan.
“Coba ingat, si Soni itu kan tinggalnya dekat pembuangan sampah hutan ini.”, Poka menjelaskan teorinya dengan serius. Tangannya ia letakkan ke belakang, persis seperti seorang profesor yang sedang berpikir. Lanjutnya, “Pasti itu isinya sampah-sampah yang sudah busuk, trus ia kumpulkan dan masukkan ke dalam kotak agar tidak bau.”
Di seberang tampak Soni sedang meletakkan kotak tersebut di ruang tamu Bu Beri.
“Hmmm, bisa jadi”, Beka mengangguk-anggukkan paruhnya. “Dan jangan-jangan, Bu Beri itu punya hobi ngumpulin sampah. Dia kan tinggal sendirian sekarang, siapa tahu karena nganggur jadinya punya hobi aneh.”
“Ih, jorok juga ya”, Poka menjawab dengan raut muka jijik.
Dari luar terdengar suara pintu rumah Bu Beri ditutup. Tampaknya Soni Semut sudah pulang, meninggalkan kotak hitam tersebut di rumah Bu Beri.
***
Tiga hari sudah berlalu sejak kotak hitam itu datang. Setiap hari, Poka dan Beka mengamatinya secara diam-diam dari seberang sungai. Meskipun tidak begitu jelas karena terhalang korden rumah bu Beri, tampak bahwa bu Beri sibuk sekali dengan isi kotak hitam tersebut.
Sesekali Soni mampir dan mereka berdua terlihat antusias sekali mendiskusikan sesuatu.
Selama tiga hari itu pula, Poka dan Beka tak henti-hentinya menduga-duga dan berasumsi mengenai “sampah” yang ada di dalam kotak hitam tersebut. Prediksi mereka yang terbaru, Bu Beri dan Soni sedang berkonspirasi untuk mengumpulkan sampah-sampah terbusuk dari seluruh penjuru hutan, dan sedikit demi sedikit mengubah hutan mereka menjadi hutan sampah!
***
Keesokan harinya, dengan diantar oleh Kaka Kancil, Bu Beri menyeberangi sungai dan menuju ke rumah Poka dan Beka. Poka, yang sedang asik berjemur di atap rumah, kaget melihat kedatangan mereka berdua. Buru-buru ia menyusup masuk ke dalam rumah, menutup dan mengunci pintu dan jendela, serta menyuruh Beka untuk bersembunyi.
“Aku tidak menyangka kalau Kaka sekarang ikut bersekongkol dengan Bu Beri. Mereka ke sini pasti ingin mengajak kita untuk bergabung dengan organisasi menjijikkan mereka itu. Ih, amit-amit deh.”, bisik Poka pada Beka dari balik kulkas, tempat keduanya bersembunyi.
Beka mengangguk, tanda setuju.
Tok. Tok. Tok.
Poka dan Beka menahan nafas mendengar suara pintu diketok.
Tok. Tok. Tok.
Tok. Tok. Tok.
Tok. Tok. Tok.
Kaki Beka mulai kesemutan.
Tok. Tok. Tok.
“Hmmm, sepertinya mereka sedang tidak ada di rumah”, samar-samar terdengar perkataan Kaka kepada bu Beri.
“Iya, kalau begitu sebaiknya kita kembali saja.”, jawab bu Beri.
Sejurus kemudian terdengar suara langkah-langkah kaki menjauh.
“Phew”, ujar Beka sambil melemaskan kaki-kakinya. “Akhirnya mereka pergi juga. Hampir saja kita terjerumus ke dalam kelompok sampah itu.”
Poka mengintip dari balik jendela, menatap perahu yang dinaiki Kaka dan Bu Beri menjauh.
“Iya, untung saja tadi mereka tidak melihatku di atap.”, ujarnya, lega. “Tidur siang saja yuk, malas aku memikirkan sampah-sampah itu”.
“Yukkkk”.
***
Beberapa jam kemudian Beka terbangun. Terdengar suara ramai dari seberang sungai. Ia meloncat dari tempat tidur dan menuju ke jendela.
Tampak rumah Bu Beri terang benderang. Ramai. Binatang-binatang hutan sedang berkumpul di sana. Mereka asik mengobrol, tertawa, dan menyanyi. Di sisi kanan, bu Tutul Macan dan kak Boni Ulat sibuk menyiapkan makanan yang harumnya terasa sampai ke hidung Beka. Di sisi kiri, Kuri Kura bernyanyi dengan lantang sambil diiringi petikan gitar Kaka Kancil.
Beka sejenak bengong.
18 detik kemudian ia tersadar, dan bergegas membangunkan Poka.
“Poka, Poka, cepat bangun”.
“Apa sih”, jawab Poka sambil cemberut.
“Itu lihat, di rumah Bu Beri”
Mendengar kata kunci ‘Bu Beri’, Poka langsung loncat dari tempat tidurnya dan berlari ke arah jendela.
“Hah, ada apa itu???”, giliran Poka yang bengong.
Di seberang, Bu Beri keluar dari dalam rumahnya sambil membawa kotak besar hitam.
“Ayo semuanya kumpul sini”, teriaknya lantang sambil tersenyum.
Setelah semua binatang berkumpul mengelilingi bu Beri dan kotak hitamnya, Soni Semut tiba-tiba muncul dari balik kotak dan berkata, “Teman-teman, berhubung sekarang adalah hari ulang tahunku dan Bu Beri, yang kebetulan tanggalnya sama, maka kita berdua memutuskan untuk memberikan kado kepada seluruh penghuni hutan!!!”
Seluruh binatang bersorak dan bertepuk tangan. Saking semangatnya bertepuk tangan, Kuri Kura bahkan sampai terjengkang ke belakang.
“Dan terimalah kado dari kami berdua”, ujar Bu Beri Berang dan Soni Semut sembari menggulingkan kotak hitam tersebut.
Poka dan Beka tercekat. Tidak sadar, keduanya berpengangan tangan dan bergumam, “Pasti sampah… pasti sampah.. pasti sampah…”
Kotak terguling. Tutupnya terlepas dan menggelinding, diiringi dengan tumpahnya puluhan bahkan ratusan mainan yang sudah dibungkus kado manis dari dalam kotak.
“Horeeeee!!!!”, sorak penghuni hutan.
Sekali lagi, Poka dan Beka bengong.
***
Malam itu Poka dan Beka terdiam. Sejak melihat mainan-mainan yang ada di dalam kotak hitam bu Beri, mereka tidak bercakap-cakap apapun. Masing-masing sibuk dengan penyesalannya.
Tok. Tok. Tok.
Tiba-tiba terdengar suara ketokan di pintu.
Beka dan Poka berpandangan. Bingung.
“Anak-anak, kalian ada di rumah?”, terdengar suara Bu Beri dari balik pintu.
Kedua bebek kecil itu tersenyum dan langsung berlomba membukakan pintu bagi Bu Beri.
Kuda Berkacamata Hitam
Kaku adalah kuda yang paling gagah di hutan. Tidak hanya gagah, ia pun kuat dan dapat berlari dengan cepat. Saking hebatnya, warga hutan yang lain memberikan gelar “Kuda Perkasa” padanya. Disingkat “kuper”, hehehe.
Sayangnya, perilaku Kaku tidak sehebat kemampuannya. Karena merasa dirinya yang paling jago, ia menjadi sombong dan sering menganggap remeh orang binatang lain. Tabiat buruknya yang lain adalah selalu ingin dipuja. Itu sebabnya ia iri 1/2 mati terhadap Horas.
Ya, Horas adalah kuda gemuk yang cenderung pendiam. Walaupun begitu, penghuni hutan lainnya senang kepadanya karena ia suka menolong dan ramah. Berbeda 180 derajat dengan Kaku.
Suatu hari Kaku pun mendatangi Horas yang sedang makan rumput di pinggir sungai.
“Hei Horas, ayo kita berlomba mengelilingi bukit timur itu”, tantang Kaku tanpa berbasa-basi. “Aku ingin tahu, siapa diantara kita yang paling hebat”.
Horas menoleh dengan santai ke arah Kaku.
“Buat apa ah”, jawabnya, “Kan sudah jelas, kamulah kuda paling hebat di hutan ini. Aku jelas gak mungkin menang melawanmu.”
“Tidak peduli!”, tukas Kaku. Kasar. “Pokoknya aku ingin kita bertanding. Kalau tidak, aku akan hancurkan rumah kayu milik Bu Beri Berang-berang yang kamu buat untuknya bulan lalu.”
Horas tertegun. Ingatannya melayang ke Bu Beri. Badannya yang sudah tua. Bulu-bulunya yang mulai memutih. Tongkat penyangga jalannya.
“Baiklah”, ujarnya sambil mengangguk lirih. “Kapan kita bertanding?”
Kaku menjawab sambil tersenyum sinis, “Besok sore.”
Malamnya Kaku mulai membayangkan dirinya yang tengah berlari di bukit timur dengan gagah. Bulunya yang hitam berkilauan terkena cahaya matahari sunset. Kakinya yang kokoh menapak mantap di atas tanah bukit timur yang berbatuan menimbulkan suara yang keras.
Ketepok. Ketepok. Ketepok.
Mendadak ia terkikik. Ia membayangkan Horas yang gemuk berlari dengan terengah-engah menaiki bukit dan akhirnya tersungkur kecapekan.
“Kemenangan sudah jelas ada di tanganku.”, batin Kaku. “Apabila aku menang, penduduk hutan akan makin menyadari bahwa aku lah kuda terhebat di sini. Popularitasku pasti akan jauh melebihi Horas. Sekarang aku harus cari cara agar aku tampak keren di hadapan mereka saat masuk ke garis finish.”
Ia berpikir. Tiba-tiba ia teringat pada majalah mingguan “Kueren” yang ia beli minggu lalu. Kaku pun mengambil majalah tersebut dari laci lemarinya dan mulai membuka lembar demi lembar. Sampai akhirnya…
“Ini dia!!!”, teriak Kaku sambil menunjukkan jarinya tangannya ke sebuah iklan tentang kacamata hitam. “Dengan ini aku pasti akan tambah cool di depan warga hutan”.
Keesokan harinya, Kaku menyempatkan diri untuk pergi ke mall dan membeli kacamata hitam yang paling mentereng. Setelah bersiap dengan menggunakan tapal kudanya yang berbalut emas, ia pun bergegas menuju ke bukit timur, tempat ia akan bertanding dengan Horas.
Sesampainya di sana, tampak Horas sedang berbincang riang dengan teman-temannya. Ada Kuri si Kura-Kura, Nur si burung Nuri, dan bu Beri Berang-Berang. Warga hutan lainnya pun berjejer di sepanjang jalur, bersiap untuk menyaksikan lomba antara Horas dan Kaku.
“Ayo segera kita mulai”, kata Kaku sembari memakai kacamata hitamnya yang baru.
Horas memandang Kaku dengan wajah aneh. Perhatiannya tertuju pada kacamata hitam Kaku dan label harganya yang entah sengaja atau tidak, lupa dicopotnya.
Namun Horas tidak berkata apa-apa. Sebaliknya, ia meminta Nur untuk membantu memasangkan kacamata kudanya yang sudah agak butut.
Kedua kuda itu pun bersiap di garis Start. Pak Hori Harimau yang bertugas sebagai penjaga garis melambai-lambaikan bendera putih di depan mereka. Dalam hitungan ketiga, ia menurunkan bendera dengan bersemangat sambil berteriak lantang, “Mulai!!!”
Kaku langsung melesat. Julukannya sebagai “Kuda Perkasa” memang bukan main-main. Dalam hitungan detik, ia sudah tidak tampak di balik bukit. Sebaliknya, Horas melaju dengan sambil menjaga kecepatan dan staminanya. Ia sadari bahwa dalam urusan keduanya, ia bukan tandingan Kaku, oleh karena itu ia harus berhati-hati dan tidak boleh gegabah.
Kaku yang jauh memimpin di depan tertawa lebar-lebar sambil terus memacu kecepatannya. Ia sudah tidak kuasa lagi membayangkan kemenangannya. Di hadapannya sudah tampak Bukit Curam, bukit terakhir dari deretan Bukit Timur.
Bukit Curam terkenal sebagai bukit paling berbahaya di daerah itu. Berbatu dan memiliki sudut tanjakan yang sempit. Siapa saja yang tidak berhati-hati pasti akan celaka. Di sisi lain, pemandangan dari atas Bukit Curam cukup indah. Dari sana terlihat jelas pemandangan hutan serta danau Leka yang luas dan banyak ikannya. Warga hutan sering berkumpul di danau tersebut, baik untuk mandi maupun sekedar untuk bersantai dan bersosialisasi.
Beberapa langkah menuruni Bukit Curam, perhatian Kaku terpecah. Di bawah, tampak Kutik, kuda betina yang jadi incarannya sejak masa sekolah dulu, sedang mematut-matut tubuhnya di hamparan air danau yang jernih. Tidak lagi konsentrasi terhadap jalan di depannya, kaki kanan Kaku tanpa sengaja menabrak sebuah batu yang cukup besar.
Kaku oleng. Ia terjungkal dan menggelinding ke sisi kiri bukit sebelum akhirnya mencapai garis finish barunya di sebuah kubangan tepat di samping Kutik yang melongo melihat adegan akrobat gratis.
Byurrrrr.
Sejurus kemudian, Kutik tertawa terbahak-bahak. ROTGLOL. Tanpa mempedulikan Kaku yang kesakitan setelah terguling-guling di bukit berbatu. Tanpa mempedulikan wajah Kaku yang merah padam. Tanpa mempedulikan kacamata hitam Kaku yang patah. Tanpa mempedulikan perasaan Kaku yang bingung antara menahan sakit dengan menahan malu.
Saat ia mencoba untuk berdiri (dengan diiringi tawa Kutik yang masih berkesinambungan), terdengar sorak sorai warga hutan. Rupanya Horas telah tiba di garis finish. Agak terengah-engah, tapi setidaknya ia sampai ke tujuan dengan berlari, bukan dengan menggelinding.
Dari kejauhan, ia menatap Kaku (yang masih mencoba berdiri) dan Kutik (yang masih terus tertawa). Horas juga suka pada Kutik dan ia mungkin akan melakukan kesalahan yang sama seperti Kaku seandainya ia tidak menggunakan kacamata kudanya. Ya, kacamata itulah yang membantunya untuk tetap berkonsentrasi sepanjang lomba.
Horas mengangkat kaki kanannya, ingin berjalan ke arah Kaku. Tapi kawan-kawan dan penghuni hutan lainnya mulai mengerubunginya, sibuk memberinya selamat dan memintanya bercerita tentang perasaannya. Akhirnya Horas pun membatalkan niatnya untuk membantu Kaku.
“Semoga ia baik-baik saja”, gumamnya.
Sayangnya, perilaku Kaku tidak sehebat kemampuannya. Karena merasa dirinya yang paling jago, ia menjadi sombong dan sering menganggap remeh orang binatang lain. Tabiat buruknya yang lain adalah selalu ingin dipuja. Itu sebabnya ia iri 1/2 mati terhadap Horas.
Ya, Horas adalah kuda gemuk yang cenderung pendiam. Walaupun begitu, penghuni hutan lainnya senang kepadanya karena ia suka menolong dan ramah. Berbeda 180 derajat dengan Kaku.
Suatu hari Kaku pun mendatangi Horas yang sedang makan rumput di pinggir sungai.
“Hei Horas, ayo kita berlomba mengelilingi bukit timur itu”, tantang Kaku tanpa berbasa-basi. “Aku ingin tahu, siapa diantara kita yang paling hebat”.
Horas menoleh dengan santai ke arah Kaku.
“Buat apa ah”, jawabnya, “Kan sudah jelas, kamulah kuda paling hebat di hutan ini. Aku jelas gak mungkin menang melawanmu.”
“Tidak peduli!”, tukas Kaku. Kasar. “Pokoknya aku ingin kita bertanding. Kalau tidak, aku akan hancurkan rumah kayu milik Bu Beri Berang-berang yang kamu buat untuknya bulan lalu.”
Horas tertegun. Ingatannya melayang ke Bu Beri. Badannya yang sudah tua. Bulu-bulunya yang mulai memutih. Tongkat penyangga jalannya.
“Baiklah”, ujarnya sambil mengangguk lirih. “Kapan kita bertanding?”
Kaku menjawab sambil tersenyum sinis, “Besok sore.”
Malamnya Kaku mulai membayangkan dirinya yang tengah berlari di bukit timur dengan gagah. Bulunya yang hitam berkilauan terkena cahaya matahari sunset. Kakinya yang kokoh menapak mantap di atas tanah bukit timur yang berbatuan menimbulkan suara yang keras.
Ketepok. Ketepok. Ketepok.
Mendadak ia terkikik. Ia membayangkan Horas yang gemuk berlari dengan terengah-engah menaiki bukit dan akhirnya tersungkur kecapekan.
“Kemenangan sudah jelas ada di tanganku.”, batin Kaku. “Apabila aku menang, penduduk hutan akan makin menyadari bahwa aku lah kuda terhebat di sini. Popularitasku pasti akan jauh melebihi Horas. Sekarang aku harus cari cara agar aku tampak keren di hadapan mereka saat masuk ke garis finish.”
Ia berpikir. Tiba-tiba ia teringat pada majalah mingguan “Kueren” yang ia beli minggu lalu. Kaku pun mengambil majalah tersebut dari laci lemarinya dan mulai membuka lembar demi lembar. Sampai akhirnya…
“Ini dia!!!”, teriak Kaku sambil menunjukkan jarinya tangannya ke sebuah iklan tentang kacamata hitam. “Dengan ini aku pasti akan tambah cool di depan warga hutan”.
Keesokan harinya, Kaku menyempatkan diri untuk pergi ke mall dan membeli kacamata hitam yang paling mentereng. Setelah bersiap dengan menggunakan tapal kudanya yang berbalut emas, ia pun bergegas menuju ke bukit timur, tempat ia akan bertanding dengan Horas.
Sesampainya di sana, tampak Horas sedang berbincang riang dengan teman-temannya. Ada Kuri si Kura-Kura, Nur si burung Nuri, dan bu Beri Berang-Berang. Warga hutan lainnya pun berjejer di sepanjang jalur, bersiap untuk menyaksikan lomba antara Horas dan Kaku.
“Ayo segera kita mulai”, kata Kaku sembari memakai kacamata hitamnya yang baru.
Horas memandang Kaku dengan wajah aneh. Perhatiannya tertuju pada kacamata hitam Kaku dan label harganya yang entah sengaja atau tidak, lupa dicopotnya.
Namun Horas tidak berkata apa-apa. Sebaliknya, ia meminta Nur untuk membantu memasangkan kacamata kudanya yang sudah agak butut.
Kedua kuda itu pun bersiap di garis Start. Pak Hori Harimau yang bertugas sebagai penjaga garis melambai-lambaikan bendera putih di depan mereka. Dalam hitungan ketiga, ia menurunkan bendera dengan bersemangat sambil berteriak lantang, “Mulai!!!”
Kaku langsung melesat. Julukannya sebagai “Kuda Perkasa” memang bukan main-main. Dalam hitungan detik, ia sudah tidak tampak di balik bukit. Sebaliknya, Horas melaju dengan sambil menjaga kecepatan dan staminanya. Ia sadari bahwa dalam urusan keduanya, ia bukan tandingan Kaku, oleh karena itu ia harus berhati-hati dan tidak boleh gegabah.
Kaku yang jauh memimpin di depan tertawa lebar-lebar sambil terus memacu kecepatannya. Ia sudah tidak kuasa lagi membayangkan kemenangannya. Di hadapannya sudah tampak Bukit Curam, bukit terakhir dari deretan Bukit Timur.
Bukit Curam terkenal sebagai bukit paling berbahaya di daerah itu. Berbatu dan memiliki sudut tanjakan yang sempit. Siapa saja yang tidak berhati-hati pasti akan celaka. Di sisi lain, pemandangan dari atas Bukit Curam cukup indah. Dari sana terlihat jelas pemandangan hutan serta danau Leka yang luas dan banyak ikannya. Warga hutan sering berkumpul di danau tersebut, baik untuk mandi maupun sekedar untuk bersantai dan bersosialisasi.
Beberapa langkah menuruni Bukit Curam, perhatian Kaku terpecah. Di bawah, tampak Kutik, kuda betina yang jadi incarannya sejak masa sekolah dulu, sedang mematut-matut tubuhnya di hamparan air danau yang jernih. Tidak lagi konsentrasi terhadap jalan di depannya, kaki kanan Kaku tanpa sengaja menabrak sebuah batu yang cukup besar.
Kaku oleng. Ia terjungkal dan menggelinding ke sisi kiri bukit sebelum akhirnya mencapai garis finish barunya di sebuah kubangan tepat di samping Kutik yang melongo melihat adegan akrobat gratis.
Byurrrrr.
Sejurus kemudian, Kutik tertawa terbahak-bahak. ROTGLOL. Tanpa mempedulikan Kaku yang kesakitan setelah terguling-guling di bukit berbatu. Tanpa mempedulikan wajah Kaku yang merah padam. Tanpa mempedulikan kacamata hitam Kaku yang patah. Tanpa mempedulikan perasaan Kaku yang bingung antara menahan sakit dengan menahan malu.
Saat ia mencoba untuk berdiri (dengan diiringi tawa Kutik yang masih berkesinambungan), terdengar sorak sorai warga hutan. Rupanya Horas telah tiba di garis finish. Agak terengah-engah, tapi setidaknya ia sampai ke tujuan dengan berlari, bukan dengan menggelinding.
Dari kejauhan, ia menatap Kaku (yang masih mencoba berdiri) dan Kutik (yang masih terus tertawa). Horas juga suka pada Kutik dan ia mungkin akan melakukan kesalahan yang sama seperti Kaku seandainya ia tidak menggunakan kacamata kudanya. Ya, kacamata itulah yang membantunya untuk tetap berkonsentrasi sepanjang lomba.
Horas mengangkat kaki kanannya, ingin berjalan ke arah Kaku. Tapi kawan-kawan dan penghuni hutan lainnya mulai mengerubunginya, sibuk memberinya selamat dan memintanya bercerita tentang perasaannya. Akhirnya Horas pun membatalkan niatnya untuk membantu Kaku.
“Semoga ia baik-baik saja”, gumamnya.
Pilih Ikan Atau Kail?
“Duh, kok kemaraunya gak berhenti-berhenti yah”, keluh Kaka si kancil.
“Iya nih”, jawab Kuri si kura-kura lirih, “kalau begini terus dua tiga hari lagi persediaan makanan kita bakal habis.”
Kaka dan Kuri memang tinggal bersama. Mereka membuat rumah yang cukup nyaman di dalam sebuah gua kecil. Di sekitar gua sejatinya banyak ditumbuhi tanaman-tanaman yang menjadi pengisi perut mereka sehari-hari. Namun sayangnya, sejak beberapa minggu terakhir ini, panas yang berkepanjangan melanda, sehingga sedikit demi sedikit tanaman yang ada mati kekeringan.
“Coba kita bisa memancing seperti pak Beri Beruang”, lanjut Kuri, “pastinya kita tidak perlu pusing seperti ini.”
BRAKKKK!!!!
Kaka tiba-tiba meloncat dari kursinya hingga tidak sengaja menjatuhkan kursi tersebut.
“Aku ada ide!”, teriak Kaka dengan semangat ‘45.
“Ada ide ya ada ide”, gerutu Kuri yang sempat jantungan gara-gara ulah Kaka tadi, “tapi jangan bikin aku mati muda dong.”
“Dengar dulu”, potong Kaka sebelum Kuri melanjutkan omelannya. “Bagaimana kalau kita minta ikan ke pak Beri? Kan seringkali dia dapat ikan banyak, yang lebih dari jatah makan perut gendutnya. Pasti bakal diberi deh.”
“Memangnya kita akan minta-minta ikan terus ke dia? Lama-lama juga pasti pak Beri gak akan mau memberi ikan ke kita.”, jawab Kuri sambil membetulkan kursi yang tadi terjatuh. Lanjutnya, “Lebih baik kita minta diajari cara memancing ikan saja.”
“Ah, tahu sendiri kan pak Beri seperti apa sifatnya”, tukas Kaka. “Galak. Bicaranya keras, tapi susah dicerna maksudnya. Mendingan minta langsung aja. Lagipula aku malas kalau harus belajar segala.”
Kaka melangkah mendekati jendela. Matanya berbinar-binar nakal.
“Nanti aku akan cari alasan yang berbeda setiap harinya agar pak Beri mau memberikan ikan kepadaku.”, katanya. “Gimana Kur, setuju tidak?”
Kuri termenung. Di satu sisi, ia membayangkan nikmatnya duduk santai di tepi jalan setapak ke sungai sambil menunggu pak Beri lewat membawa hasil pancingannya. Ia kenal Kaka sejak lama. Kawannya yang cerdas ini pasti dapat menemukan cara untuk membuat satu dua ikan pak Beri berpindah tangan.
Di sisi lain, ia tidak ingin hanya berpangku tangan dan bergantung kepada binatang lain. Ia juga ingin dapat memancing ikan sendiri sehingga tidak kebingungan apabila suatu saat kemarau datang lagi.
“Hei, kok malah melamun”, ujar Kaka sambil mendorong pelan tempurung Kuri.
“Aku tidak ikutan deh”, jawab Kuri.
“Loh kok…”
“Iya, aku ingin coba memancing saja. Pasti terasa lebih lezat kalau ikannya hasil pancinganku sendiri”.
Mata Kaka tercenung. Ia menatap tajam ke arah Kuri. Beberapa detik kemudian ia tertawa terbahak-bahak.
“HAHAHAHAH!!! Kamu bercanda kan? Memangnya kamu mau belajar darimana? Pak Beri? Bisa tambah lapar kalau kamu kelamaan ngobrol dengan dia!”, kata Kaka lantang. “Lagipula”, lanjutnya, “semua binatang di hutan ini kan tahu kalau kamu itu lambat berpikirnya.”
Kuri tersenyum mendengar sindiran Kaka.
“Biar saja”, jawabnya. Pede. “Aku yakin kalau aku berusaha pasti aku akan bisa”.
Begitulah. Keesokan harinya, Kuri mulai mengikuti dan mengamati pak Beri yang sedang memancing. Ia kemudian mencoba untuk membuat tongkat pancingnya sendiri dan menanyakan kepada pak Beri, apakah kailnya sudah benar atau belum. Dengan tekun ia berusaha memahami apa maksud perkataan pak Beri hingga akhirnya ia berhasil membuat tongkat pancing yang kuat dan kokoh.
Si kancil? Sesuai rencananya, Kaka menunggu di ujung jalan hingga pak Beri lewat dan mengiba-iba kepadanya untuk meminta seekor ikan hasil tangkapannya. Dasar cerdik, pak Beri pun tidak kuasa menolak permintaannya.
“Lihat nih,” ujar Kaka pada Kuri sesampainya di rumah, “ikan pemberian pak Beri. Besar bukan? Pasti lezat jika dibumbu rujak dan dimakan dengan sambal mangga. Mana ikanmu?”
Kuri menunjukkan kail buatannya dengan bangga.
“Nih”, katanya sambil tersenyum. “Hari ini aku memang belum bisa membawa ikan, tapi aku sudah bisa membuat tongkat pancingku sendiri.”
“Terserahlah,” tukas Kaka. “Kok mau-maunya sih repot begitu.”
Hari demi hari berlalu. Kuri terus berusaha untuk belajar tehnik memancing ikan dari pak Beri. Mulai dari memilih umpan, mencari tempat yang banyak ikannya, hingga cara menarik ikan agar tidak terlepas dari kaitannya. Kaka pun melalui hari-harinya dengan seribu satu alasan untuk dapat menaklukkan hati pak Beri.
Lama kelamaan, pak Beri pun jenuh. Ia tidak mau lagi memberikan ikannya kepada Kaka meskipun Kaka sudah memohon sambil berguling-guling di tanah. Sebaliknya, Kuri semakin ahli dalam memancing dan sudah dapat menangkap ikan sendiri. Melihat Kaka yang menangis tersedu-sedu karena tidak mendapatkan makanan hari itu, Kuri pun membagikan ikan hasil tangkapannya pada Kaka.
“Tuh kan, benar yang aku bilang”, kata Kuri bijak. “Lebih baik kita berusaha sendiri daripada selalu bergantung kepada orang lain. Meskipun kelihatannya susah, jika terus mencoba, pasti kita akan bisa.”
Kaka mengangguk perlahan. Kali ini dia setuju dengan pendapat Kuri.
“Iya nih”, jawab Kuri si kura-kura lirih, “kalau begini terus dua tiga hari lagi persediaan makanan kita bakal habis.”
Kaka dan Kuri memang tinggal bersama. Mereka membuat rumah yang cukup nyaman di dalam sebuah gua kecil. Di sekitar gua sejatinya banyak ditumbuhi tanaman-tanaman yang menjadi pengisi perut mereka sehari-hari. Namun sayangnya, sejak beberapa minggu terakhir ini, panas yang berkepanjangan melanda, sehingga sedikit demi sedikit tanaman yang ada mati kekeringan.
“Coba kita bisa memancing seperti pak Beri Beruang”, lanjut Kuri, “pastinya kita tidak perlu pusing seperti ini.”
BRAKKKK!!!!
Kaka tiba-tiba meloncat dari kursinya hingga tidak sengaja menjatuhkan kursi tersebut.
“Aku ada ide!”, teriak Kaka dengan semangat ‘45.
“Ada ide ya ada ide”, gerutu Kuri yang sempat jantungan gara-gara ulah Kaka tadi, “tapi jangan bikin aku mati muda dong.”
“Dengar dulu”, potong Kaka sebelum Kuri melanjutkan omelannya. “Bagaimana kalau kita minta ikan ke pak Beri? Kan seringkali dia dapat ikan banyak, yang lebih dari jatah makan perut gendutnya. Pasti bakal diberi deh.”
“Memangnya kita akan minta-minta ikan terus ke dia? Lama-lama juga pasti pak Beri gak akan mau memberi ikan ke kita.”, jawab Kuri sambil membetulkan kursi yang tadi terjatuh. Lanjutnya, “Lebih baik kita minta diajari cara memancing ikan saja.”
“Ah, tahu sendiri kan pak Beri seperti apa sifatnya”, tukas Kaka. “Galak. Bicaranya keras, tapi susah dicerna maksudnya. Mendingan minta langsung aja. Lagipula aku malas kalau harus belajar segala.”
Kaka melangkah mendekati jendela. Matanya berbinar-binar nakal.
“Nanti aku akan cari alasan yang berbeda setiap harinya agar pak Beri mau memberikan ikan kepadaku.”, katanya. “Gimana Kur, setuju tidak?”
Kuri termenung. Di satu sisi, ia membayangkan nikmatnya duduk santai di tepi jalan setapak ke sungai sambil menunggu pak Beri lewat membawa hasil pancingannya. Ia kenal Kaka sejak lama. Kawannya yang cerdas ini pasti dapat menemukan cara untuk membuat satu dua ikan pak Beri berpindah tangan.
Di sisi lain, ia tidak ingin hanya berpangku tangan dan bergantung kepada binatang lain. Ia juga ingin dapat memancing ikan sendiri sehingga tidak kebingungan apabila suatu saat kemarau datang lagi.
“Hei, kok malah melamun”, ujar Kaka sambil mendorong pelan tempurung Kuri.
“Aku tidak ikutan deh”, jawab Kuri.
“Loh kok…”
“Iya, aku ingin coba memancing saja. Pasti terasa lebih lezat kalau ikannya hasil pancinganku sendiri”.
Mata Kaka tercenung. Ia menatap tajam ke arah Kuri. Beberapa detik kemudian ia tertawa terbahak-bahak.
“HAHAHAHAH!!! Kamu bercanda kan? Memangnya kamu mau belajar darimana? Pak Beri? Bisa tambah lapar kalau kamu kelamaan ngobrol dengan dia!”, kata Kaka lantang. “Lagipula”, lanjutnya, “semua binatang di hutan ini kan tahu kalau kamu itu lambat berpikirnya.”
Kuri tersenyum mendengar sindiran Kaka.
“Biar saja”, jawabnya. Pede. “Aku yakin kalau aku berusaha pasti aku akan bisa”.
Begitulah. Keesokan harinya, Kuri mulai mengikuti dan mengamati pak Beri yang sedang memancing. Ia kemudian mencoba untuk membuat tongkat pancingnya sendiri dan menanyakan kepada pak Beri, apakah kailnya sudah benar atau belum. Dengan tekun ia berusaha memahami apa maksud perkataan pak Beri hingga akhirnya ia berhasil membuat tongkat pancing yang kuat dan kokoh.
Si kancil? Sesuai rencananya, Kaka menunggu di ujung jalan hingga pak Beri lewat dan mengiba-iba kepadanya untuk meminta seekor ikan hasil tangkapannya. Dasar cerdik, pak Beri pun tidak kuasa menolak permintaannya.
“Lihat nih,” ujar Kaka pada Kuri sesampainya di rumah, “ikan pemberian pak Beri. Besar bukan? Pasti lezat jika dibumbu rujak dan dimakan dengan sambal mangga. Mana ikanmu?”
Kuri menunjukkan kail buatannya dengan bangga.
“Nih”, katanya sambil tersenyum. “Hari ini aku memang belum bisa membawa ikan, tapi aku sudah bisa membuat tongkat pancingku sendiri.”
“Terserahlah,” tukas Kaka. “Kok mau-maunya sih repot begitu.”
Hari demi hari berlalu. Kuri terus berusaha untuk belajar tehnik memancing ikan dari pak Beri. Mulai dari memilih umpan, mencari tempat yang banyak ikannya, hingga cara menarik ikan agar tidak terlepas dari kaitannya. Kaka pun melalui hari-harinya dengan seribu satu alasan untuk dapat menaklukkan hati pak Beri.
Lama kelamaan, pak Beri pun jenuh. Ia tidak mau lagi memberikan ikannya kepada Kaka meskipun Kaka sudah memohon sambil berguling-guling di tanah. Sebaliknya, Kuri semakin ahli dalam memancing dan sudah dapat menangkap ikan sendiri. Melihat Kaka yang menangis tersedu-sedu karena tidak mendapatkan makanan hari itu, Kuri pun membagikan ikan hasil tangkapannya pada Kaka.
“Tuh kan, benar yang aku bilang”, kata Kuri bijak. “Lebih baik kita berusaha sendiri daripada selalu bergantung kepada orang lain. Meskipun kelihatannya susah, jika terus mencoba, pasti kita akan bisa.”
Kaka mengangguk perlahan. Kali ini dia setuju dengan pendapat Kuri.
Langganan:
Postingan (Atom)